Membentuk Pribadi Muslim melalui Pertemanan dengan Orang-orang Saleh

Manusia adalah makhluk sosial yang diberikan kecenderungan untuk berinteraksi dengan manusia lain. Interaksi manusia paling awal adalah dengan keluarganya yang memberikan pengaruh cukup besar dalam pembentukan karakternya. Pada tahap selanjutnya ia akan berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya; dengan teman di sekolah, dengan tetangga, dengan rekan kerja, dan lain-lain. Dari sekian banyak orang yang ditemuinya, di antara mereka akan ada yang akan menjadi teman dekatnya atau yang bisa juga disebut sebagai sahabat.

Seseorang bisa menjadi sahabat jika terjadi di antara mereka terjadi hubungan emosional yang lebih kuat dan memiliki kesamaan visi tentang apa yang dianggap penting atau tidak penting dalam hidup. Kesamaan visi tentang kehidupan ini menyebabkan hubungan persahabatan ini bisa memberi pengaruh besar pada perkembangan pribadi seseorang. Pengaruhnya bahkan bisa lebih besar dari apa yang didapat seseorang dari keluarganya.

Kisah-kisah hidup muslim awal adalah contoh yang paling populer dan akurat, bagaimana persahabatan dan kebersamaan mereka dengan Rasulullah SAW telah mengubah kepribadian mereka. Orang-orang yang sebelumnya menjadi penyembah berhala, pembunuh anak-anak perempuan yang tak berdosa, rasial, curang, dan saling bermusuhan, setelah dibimbing oleh Rasulullah SAW berubah menjadi manusia yang beriman pada Tuhan yang satu, jujur, adil, ihsan dan tawaduk.

Dari pemaparan di atas, kita memahami bahwa pertemanan dengan orang-orang saleh itu akan sangat membantu pengembangan pribadi seseorang ke arah yang lebih baik.

Perintah Berteman dengan Orang-orang Baik (Saleh).

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaan mereka itu melewati batas.” (Al-Qur'an 18:28)

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan kita untuk berteman dengan orang-orang baik, yaitu orang-orang yang beribadah Tuhannya di pagi dan sore hari semata-mata untuk mengharapkan keridhaan-Nya. Allah SWT memulai perintah itu dengan kata bersabar karena dalam kehidupan dunia untuk melakukan segala sesuatu dalam koridor mengharapkan ridha Allah tidaklah mudah. Dalam berbisnis misalnya, ada etika dan aturan-aturan agama yang harus ditaati. Dalam kehidupan berumah tangga ada hak-hak dan kewajiban agama yang harus diikuti. Untuk bisa taat dan istikamah melaksanakan semua perintah-perintah agama itu kita membutuhkan pendorong dan penguat , dan mereka adalah teman-teman yang saleh.

Rasulullah SAW bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlak) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya sebagai kawan dekat (sahabat).” (Sunan Abu Dawud 4193)

Pentingnya Berkumpul dengan Majelis Orang-orang Saleh

Zaman sekarang sangat sulit menemukan seseorang yang bisa hidup menyendiri demi mendekatkan diri pada Allah seperti kisah-kisah wali sufi terdahulu. Apalagi jika orang itu punya keluarga dan anak-anak yang harus diurus. Ia harus mencari nafkah, menjalin silaturahmi dengan saudara dan tetangga serta melakukan tugas-tugas kemasyarakatan lainnya. Dalam menjalani tugas kehidupan seperti itu, sulit untuk istikamah mempraktikkan akhlak dan cara hidup Islami.

Sayyid Bakri Al-Makki, penulis kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya menjelaskan kelebihan bergaul dengan majelis orang-orang saleh:

“Majelis orang-orang saleh termasuk obat hati, karena majelis orang saleh tersebut memotivasi seseorang untuk meneladani mereka baik secara perbuatan, perkataan, dan keadaan mereka; mendorongnya agar merasa tidak puas dengan keadaannya yang berada di bawah mereka (dalam ketaatan) sehingga ia tergerak untuk menyamai atau bahkan melebihi mereka sehingga mereka menjadi sebab bagi kebahagiaannya. Adapun yang dimaksud dengan orang saleh sendiri adalah orang yang memenuhi hak Allah dan hak hamba-Nya.”

Kembali ke blog

Tulis komentar

Ingat, komentar perlu disetujui sebelum dipublikasikan.