Abu Dzar Al-Ghifari, Suara untuk Keadilan Sosial

Dari sejarah berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia, kita mengenal beberapa tokoh legendaris yang teguh berjuang membela hak-hak kaum miskin dan tertindas. Di Inggris Raya, kita mengenal sosok Robin Hood, yang gigih melawan penguasa yang menindas dan korup. Di Betawi (Jakarta), ada Si Pitung, yang gagah berani melawan penjajah Belanda yang menindas rakyat Indonesia. Dalam sejarah Islam, kita mengenal seorang tokoh bernama Abu Dhar Al-Ghifari, yang terkenal karena kegigihannya menentang para khalifah dan penguasa yang hidup dalam kemewahan pada masanya. Bedanya, sementara Robin Hood dan Si Pitung dianggap sebagai tokoh mitos atau legenda oleh sebagian orang, Abu Dhar al-Ghifari adalah orang yang nyata. Sejarah Islam mencatat Abu Dharr sebagai salah satu Sahabat Nabi Muhammad (SAW), dan dia termasuk di antara orang-orang pertama yang memeluk Islam.

Abu Dhar berasal dari suku Ghifar, yang terkenal karena sering merampok kafilah dagang yang melewati gurun. Beberapa sejarawan mengatakan Abu Dhar tidak ikut serta dalam perampokan kafilah. Namun yang lain mengatakan dia memang berpartisipasi, dan dia membagikan hasilnya kepada orang miskin dan membutuhkan.

Ketika dia mendengar bahwa di Mekkah ada seorang pria yang mengaku sebagai Nabi dan membawa agama baru, Abu Dhar penasaran untuk mencari tahu lebih banyak. Saat itu, ajaran Nabi Muhammad (SAW) telah menarik sebagian penduduk Mekkah, menyebabkan kegelisahan di kalangan para pemimpin kafir Quraisy. Abu Dhar, yang tidak pernah menyembah berhala, telah lama mencari agama yang benar. Oleh karena itu dia mengutus saudaranya ke Mekkah untuk menyelidiki kebenaran tentang Nabi baru ini.

Setelah menghabiskan beberapa hari di Mekkah menyelidiki ajaran Nabi (SAW), saudaranya melaporkan temuannya kepada Abu Dhar:

"Demi Allah, aku hanya melihat seorang pria yang menyeru orang kepada hal-hal baik dan melarang mereka dari hal-hal buruk."

Namun Abu Dhar tidak puas dengan laporan saudaranya, yang dianggapnya tidak lengkap. Maka Abu Dhar pergi sendiri ke Mekkah untuk menemui Rasulullah (SAW). Selama sebulan penuh ia mempelajari dan merenungkan ajaran Islam sebelum memutuskan untuk menjadi seorang Muslim. Setelah memeluk Islam, Rasulullah (SAW) meminta Abu Dhar untuk kembali ke kampung halamannya hingga kondisi di Mekkah cukup aman bagi para pengikut agama baru tersebut. Namun alih-alih kembali ke desanya, Abu Dhar berkeliling Mekkah dan secara terbuka menyatakan keislamannya. Akibatnya, Abu Dhar menjadi sasaran kemarahan kaum Quraisy yang kafir, yang menyimpan permusuhan mendalam terhadap mereka yang mengikuti ajaran Nabi. Untungnya, Abbas ibn Abd al-Muttalib datang untuk menyelamatkan Abu Dhar dan mendesaknya untuk kembali ke kampung halamannya, seperti yang telah diperintahkan Nabi.

Setelah kembali ke kampung halamannya, Abu Dhar tidak tinggal diam. Dengan semangat besar dan pengetahuan yang ia terima dari Rasulullah, ia menyebarkan ajaran Islam kepada kaumnya hingga mereka semua memeluk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad (SAW).

Abu Dhar sebagai Periwayat Hadis

Abu Dhar lahir dan dibesarkan di pemukiman suku Ghiffar, yang terletak di tengah-tengah antara Mekkah dan Suriah. Seperti karakter mereka yang hidup di gurun, Abu Dhar dikenal sebagai Sahabat Nabi (SAW) yang pemberani, jujur, zuhud, dan hidup sederhana. Selama periode Mekah, Abu Dhar dekat dengan Rasulullah (SAW) dan secara teratur menghadiri majelis ilmu yang diadakan Nabi. Oleh karena itu, Abu Dhar juga meriwayatkan beberapa hadis dari Nabi (SAW), di antaranya:

Abu Dhar (semoga Allah meridhoinya) berkata,

سأَلْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم هل رأَيْتَ ربَّكَ فقال نُورٌ أنَّى أراه

"Aku bertanya kepada Rasulullah (SAW), 'Apakah engkau melihat Tuhanmu (selama Isra Miraj)?' Nabi (SAW) menjawab, 'Yang aku lihat hanyalah cahaya.'" (Sahih Muslim 178a)

Abu Dhar juga pernah bertanya kepada Rasulullah,

قلتُ يا رسولَ اللهِ ألا تستعمِلُني قال فضرب بيدِه على مَنكِبي ثمَّ قال يا أبا ذرٍّ إنَّك ضعيفٌ وإنَّها أمانةٌ وإنَّها يومَ القيامةِ خِزيٌ وندامةٌ إلَّا من أخذها بحقِّها وأدَّى الَّذي عليه فيها

"Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak akan memberiku jabatan?" Beliau (SAW) menepuk pundakku dan berkata, "Abu Dhar, engkau adalah orang yang lemah. Sebuah jabatan adalah amanah. Dan pada hari kiamat itu akan menjadi sebab aib dan penyesalan, kecuali bagi mereka yang mengambilnya dengan benar dan memenuhi kewajibannya di dalamnya." (Sahih Muslim 1825)

Perselisihan dengan Muawiyah

Setelah wafatnya Nabi Muhammad (SAW), wilayah Islam berkembang pesat, bahkan meluas hingga keluar Jazirah Arab. Saat itu, Abu Dhar tinggal di Suriah di bawah kepemimpinan Gubernur Muawiyah ibn Abi Sufyan. Suriah adalah salah satu wilayah paling subur di dunia Islam, dan penduduknya hidup dalam kemakmuran. Akibatnya, beberapa Muslim yang tinggal di Suriah menjadi kaya dan tidak lagi mengikuti gaya hidup sederhana yang dicontohkan Nabi (SAW).

Pada saat itu, kekayaan terkonsentrasi di tangan sekelompok kecil orang, terutama mereka yang dekat dengan kekuasaan, sementara kaum miskin tetap terpinggirkan dan tidak memiliki akses ke sumber daya ekonomi. Fenomena ini menyebabkan kegelisahan yang mendalam pada Abu Dhar.

Ia sering mengingatkan orang-orang yang suka menimbun kekayaan dengan mengutip firman Allah dalam Al-Quran, Surah at-Tawbah, ayat 34 dan 35:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَـٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍۢ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari para pendeta dan rahib memakan harta orang dengan jalan yang batil, dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Berilah kabar gembira (dengan) azab yang pedih kepada orang-orang yang menyimpan emas dan perak (serta tidak menginfakkannya di jalan Allah). (At-Tawbah 9:34)

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَـٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا۟ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

Pada hari (ketika) emas dan perak itu dipanaskan dalam neraka Jahannam, lalu disetrika dengannya dahi, lambung dan punggung mereka (sambil dikatakan kepada mereka), “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (At-Tawbah 9:35)

Muawiyah, sebagai Gubernur Suriah, tidak sependapat dengan Abu Dhar mengenai penafsiran ayat-ayat ini. Muawiyah berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut ditujukan kepada Ahli Kitab, sementara Abu Dhar berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut merujuk pada kondisi sekelompok Muslim di Suriah yang hidup dalam kemewahan sementara sebagian besar masyarakat tetap miskin dan terpinggirkan. Muawiyah khawatir bahwa perselisihannya dengan Abu Dhar mengenai ayat-ayat ini akan menimbulkan kegelisahan di kalangan masyarakat, terutama karena Abu Dhar berulang kali membahas ayat-ayat tersebut di masjid dan tempat-tempat umum.

Khawatir bahwa sikap Abu Dhar, sebagai Sahabat senior Nabi (SAW), akan mempengaruhi Muslim di wilayahnya, Muawiyah melaporkan masalah tersebut kepada Khalifah Utsman bin Affan. Khalifah kemudian memanggil Abu Dhar ke Madinah, dan Abu Dhar pun menurut. Sejarah mencatat bahwa di Madinah, perdebatan panjang lainnya terjadi antara kedua Sahabat utama Rasulullah (SAW) mengenai penafsiran Surah at-Tawbah, ayat 34. Sikap konsisten Abu Dhar mengenai kecaman Al-Quran terhadap penumpukan kekayaan di kalangan kelompok tertentu dipandang sebagai suara yang menyerukan keadilan sosial dalam masyarakat. Dan bagi Abu Dhar, ini adalah salah satu misi utama ajaran Islam. Namun Abu Dhar akhirnya menyadari bahwa ia tidak dapat memaksakan pendapat dan keyakinannya kepada orang lain. Di akhir perdebatan dengan Khalifah Utsman, Abu Dhar berkata, "Aku tidak membutuhkan semua ini." Setelah itu, Abu Dhar dengan hormat meminta izin Utsman untuk pindah ke tempat terpencil bernama Ar-Rabadhah. Dan Utsman mengizinkannya.

Abu Dhar al-Ghifari akhirnya wafat dalam pengasingan di Rabadhah pada tahun 32 H / 652 M.

Kritik konsisten Abu Dhar terhadap ketidaksetaraan sosial dan ekonomi, bahkan di tengah meluasnya kekuasaan Kekhalifahan Islam ke seluruh penjuru dunia, tetap terukir dalam sejarah. Dan seperti yang telah terjadi pada para pejuang keadilan sosial lainnya sepanjang zaman, Abu Dhar pada akhirnya dikucilkan. Kondisinya pernah diramalkan oleh Rasulullah (SAW) dalam sebuah hadis:

رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ

"Semoga Allah merahmati Abu Dhar. Ia berjalan sendirian. Ia meninggal sendirian. Dan ia akan dibangkitkan sendirian." (Ibnu Hisyam dalam as-Sīrah 4:179)

 

Ditulis oleh: Zaynab Ali

Kembali ke blog

Tulis komentar

Ingat, komentar perlu disetujui sebelum dipublikasikan.